

Saya pernah berkunjung kesebuah pulau di Lautan Atlantik bernama Devil Island. Perjalanan dari Jakarta menuju Paris dan dari Paris menuju ke Guyana (Guyana Perancis yang terletak di Amerika Selatan dekat Suriname, bukan Guyana yang di Afrika).
Penerbangan dari Paris ke Guyana cukup lama dan nonstop. Berangkat jam 9 malam pagi baru sampai.
Setelah bermalam di kota kecil bernama Korou di Guyana, maka lusanya naik kapal laut menuju ke Devil Island kira-kira setengah jam perjalanan. Zaman dulu pulau ini merupakan penjara tempat pembuangan para terhukum yang dikirim dari Perancis.
Sampai sekarang masih ada sisa-sisa peninggalan penjara tsb sebagai objek kunjungan wisata. Dipulau tsb hanya ada satu bh hotel sekalian restoran, sedang rumah penduduk tidak ada, kecuali kantor / perumahan dinas wisatanya.

Ada sebuah menara tinggi sebagai tempat pengawalan mana kala ada tawanan yang melarikan diri.
Sisa-sisa peninggalan penjara tsb beraneka ragam ada yang berbentuk rumah, ada yang berbentuk gua. Salah satu penjara yang didalam gua adalah penjara de Fruis, yang pada waktu itu selama lima tahun dia tidak bisa bertemu orang, sehingga makanan yang dikirimpun disampaikan dengan sebuah galah panjang. Setiap tahun dikirim kepadanya surat juga lewat galah, menanyakan apakah dia menyerah dengan ideologinya, tetapi selalu dijawab dengan balasan “tidak”, dia dibebaskan setelah adanya reformasi di negara tsb. Pada saat dibebaskan dia menulis ditembok dekat pintu masuk gua tsb dan tulisan itu masih ada sampai sekarang.
Sisa lainnya yang terlihat adalah bekas rumah sakit jika ada tawanan yang memerlukan pengobatan. Ada sebuah gereja tua yang semula saya kira masih digunakan tetapi setelah saya intip lewat pintu ternyata didalam tinggal puing-puing. Dulunya gereja ini dipakai beribadah oleh para tawanan-tawanan. Saya menuju belakang gereja ternyata disana berbaris kuburan dari para tawanan yang meninggal di penjara.
Di sebelah hotel tsb ada sebuah kolam tempat buaya. Kolam tsb berada disebuah tribun dan ada menara tinggi 4 meter untuk tempat terjun. Pelayan hotel bercerita bahwa kalau dulu ada tahanan yang lari dari pulau tsb jika ketangkap maka ybs akan dinaikkan kemenara tsb dan para tahanan yang lain disuruh berkeliling menonton pada saat orang itu dilemparkan dari menara ke kolam untuk santapan buaya, tunjuannya mungkin untuk peringatan bagi yang lain jika melakukan hal yang sama.
Jika kita ke pulau tsb maka kita bisa memperoleh sertifikat bahwa sudah pernah ke “Devil Island” dengan membayar (waktu itu 5 dollar). Sertifikat tsb hanya selembar kertas yang berlogo “ Devil Island” dibubuhi nama, tanggal berkunjung, dan stempel serta tanda tangan petugas ybs. Rata-rata para pengunjung meminta sertifikat tsb untuk kenang-kenangan karena mungkin seumur hidup hanya sekali itu kesana.
(dalam hati saya kenapa di Borobudur yang pernah dinyatakan sebagai tujuh keajaiban dunia, tidak dibuat demikian oleh Dinas Wisata kita? Bukankah itu merupakan sumber pendapatan yang akan diperoleh dari turis- turis asing?).——————————————————————
kr


Apalah arti sebuah nama, begitulah ungkapan seorang William Shakespeare .
Kita tidak tau dalam kontek apa ybs menyatakan hal tsb. Apakah maksudnya nama sebuah organisasi, nama suatu tempat, nama tanaman, perangkat dsb.
Untuk “nama orang” sepertinya pernyataan diatas kurang pas, karena seolah-olah nama orang boleh sembarangan saja. Ada juga yang berpendapat yang penting adalah perilakunya. Tapi kebanyakan orang sekarang yang dipilih adalah kedua-duanya. Prilakunya baik namanya juga tidak asal-asal.
Kalau memang nama itu tidak berarti, kenapa Jakub diganti namanya menjadi Israel, Kenapa Simon diganti jadi Petrus, kenapa Saulus diganti jadi Paulus ? Bahkan sewaktu Imam Zakaria anaknya belum lahir sudah dipesankan oleh malaikat agar anaknya diberi nama Johannes, malaikat tsb tidak mengatakan bahwa anak laki-laki yang akan lahir terserah namanya apa.
Di negeri ini sendiri, Presiden pertama namanya Soekarno tapi namanya waktu kecil bukan Soekarno tapi : Kusno.
Kiranya jangan ungkapan dari William Shakespeare tsb diatas menjadi suatu justifikasi sehingga pemberian nama orang menjadi sembarangan.
Pengertian “sembarangan” atau “bermakna” juga memang relatip bagi setiap orang tapi lama-lama pola pandang akan sama. Kalau jaman dulu ada bayi lahir laki atau perempuan, dan kemudian pada saat itu bapaknya menabrak sebuah kursi, dianggap hal tsb mempunyai makna sehingga anaknya diberi nama “kursi”. Nama tsb ahirnya menjadi bahan perhatian orang lain dan menjadi mainan apalagi kalau ybs bekerja dilingkungan perkantoran.
Pada jaman sekarang hal tsb sudah berubah sama sekali, kecuali mungkin kelahiran pada even-even tertentu seperti Olimpiade sehingga anaknya bernama Olimpya.
–kr—-


Tigalingga inganku mbelin
Ingan erguro tengah kesain
Tah gia ndekah nggo kutadingken
Kuta si malem la terlupaken
Adi ku inget jaman si nai
Kalak ngeranto reh ndauh nari
Mbuah pagena adina rani
Merih manukna sangap encari
Kerangen mbelang deleng meratah
Nggurisa kabang ergawah-gawah
Pincala rende bas datas talah
Megi sorana ukur meriah
Adina musim wari perlego
Lau Belulus tetap erdeso
Karina pulung radu ertoto
Dahin ijuma ula min lolo
Nggo kenca reh wari perudan
Kalak perjuma mulai nuan
Adi nggo dung karina merdang
Ukur simberat jadi menahang
Ndalan dalani pasar si nggedang
Reh kenca udan erkubang-kubang
Sada pe motor la lit erdalan
Adi maba barang erkuda boban
Lawis ku tiga bas wari kamis
Ndayaken mbako penukur uis
Si erbinaga mbue nge rulih
Erdalan nahe pe la kapna latih
Adina berngi bulan na terang
Meriah kundul kalak erbual
Dingen na mbayu amak simbelang
Emkap amakna paya bengkuang
Tiap pukul enem erpagipagi
Ersora lonceng gereja nari
Tandana mbincar nggo matawari
Iyah kekeken, dahin nimai
Pancur merdeka inganta ridi
Namo Buara ingan erlangi
Kalak si ndurung la ngadingadi
Ngayakngayak ben nandangi berngi
Tigalingga jaman gundari
Nggo mbue sambar nggo mbue ganti
Sora mburagi lanai terbegi
Bage pe sora si leto pingki
Paya si mbelang pe nggo kerah
Kayu si nggedang nggo mbue itabah
Kerangen si nai lanai meratah
Nggurisa kabang lanai teridah
Lau si maler lanai bo mbagas
Lanai teridah nurung kaperas
Kalak perjuma pe nukur beras
Ngelar durinpe terpaksa lampas
Gia jaman nggo ganti ganti
Si enggo lewat la terulihi
Mbelang pe taneh nggo kudalani
Ate metedeh la ngadi ngadi
dbuat sewaktu training di GRONINGEN Netherland Juni 1996.
More Options ...

Categories
Tag Cloud
Blog RSS
Comments RSS
Void (Default)
Life
Earth
Wind
Water
Fire
Lightweight